Go to Top

Museum Malang Tempo Doeloe

Museum Tempo Doeloe

Petualangan baru menelusuri sejarah kota Malang yang terbagi menjadi 20 wahana lorong waktu. Museum Malang Tempo Doeloe digagas oleh Dwi Cahyono sejak 14 juni 1997  di rumah Cahyaningrat Jl.Soekarno Hatta Malang. Tujuannya untuk mengeas sejarah menjadi sesuatu yang menyenangkan diketahui dan dipelajari.

Sosialisasi lebih luas kepada masyarakat dilakukan dengan menyelenggarakan Even Malang Tempo Doeloe di Jl.Ijen dimulai tahun 2006. Even Malang Tempo Doeloe mendapatkan hak paten dari kementrian hukum dan HAM.

Perjalanan panjang museum ini pada akhinya terwujud pada tahun 2012. Dengan berdirinya Museum Malang Tempo Doeloe di Jl. Gajah Mada No.2 Malang. Museum ini di resmikan sejak tangga 22 oktober 2012. Museum ini didirikan karena di Jawa Timur masih belum ada museum kota. Museum Malang Tempo Doeloe adalah museum kota pertama yang ada di Jawa Timur.

Museum ini juga digunakan untuk pendidikan di masyarakat dan anak-anak sekolah. Di dalam museum ini terdiri dari banyak ruangan. Setiap ruang punya tema kesejarahan wilayah Malang. Ruang-ruang itu mencakup tema prasejarah, penggalian data arkeologi, Kerajaan Kanjuruhan, Mataram kuno, Kerajaan Singasari, pertapaan Ken Arok, Kerajaan Majapahit, dan benteng Malang (kini Rumah Sakit Umum Daerah dr Sjaiful Anwar). Juga ada lorong sejarah berisi foto-foto zaman dulu, galeri wali kota dan Bupati Malang.

Tak hanya barang pajangan, museum juga dilengkapi tempat pemutaran film dokudrama tentang sejarah Malang di ruang kaleidoskop. Barang koleksi terlindung kaca, disusun atau diletakkan sesuai diorama perjalanan sejarah atau perjalanan waktu yang memudahkan semua pengunjung memahami sejarah Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu).

Di Museum Malang Tempo Doeloe ini sangat membantu para pengunjung untuk mengenali dan mengetahui sejarah, benda-benda yang digunakan pada zaman dahulu dan bagaimana cara membuat karya seni. Para pengunjung diperbolehkan berpose atau berfoto bersama barang-barang koleksi itu sehingga terkesan lebih ramah. Penataan yang lebih “gaul” dan “muda” menghilangkan kesan angker, yang biasanya melekat pada museum.

Sumber : koranpendidikan.com

Share
, , , , ,