Go to Top

Sendang Biru, Magnet Nelayan Nusantara

Sendang Biru

Sendang BiruSumbermanjing wetan, perkembangan Pantai Sendangbiru Dusun Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan sungguh luar biasa. Di pantai mulai berkembang pesat sejak tahun 1997 itu, kini dihuni tak kurang dari berbagi 5.600 nelayan dari berbagi wilayah di Nusantara seperti Bugis, Sulawesi; Kalimantan; Madura dan nelayan dari berbagai daerah pulau Jawa.
Dalam sehari, ketika musim ikan tiba, hasil tangkapan ikan cukup melimpah. Dari data di koperasi Mina Jaya di tempat pelanggan ikan (TPI)  Sendang biru untuk tangkapan ikan cakalang, rata – rata mencapai 320 ton per hai, ikan tuna 15 ton, dan ikan layang sekitar 10 tom.” Tapi kalau sedang puncak, jumlahnya bisa jauh meningkat,” kata Fajar Tri Sucahyono, manajer Koperasi Mina Jaya Sendang Biru.
Selain itu, uang yang berputar selama lelang, bisa mencapai miliaran rupiah dalam sehari. Namun, di musim ceklik, tangkapan ikan bisa turun sangat drastis hingga 1 ton per ahri.
Fajar mengatakan, dari jumlah nelayan tersebut, yang menjadi anggota koperasi ada 359 nelayan. Mereka inilah yang diperbolehkan melelang ikan hasil tangkapannya di TPI. Selain harus menjadi anggota, untuk bisa ikut lelang, anggota harus menyerahkan jaminan minimal Rp. 50 juta ke KUD.
Menurut Fajar, banyak nelayan dari luar Malang yang memilih datang ke Sendangbiru. Karena di pantai itu, antara jarak penangkapan ikan tuna denga pantai relatif dekat. Sehingga, hasil tangkapan ikan tuna dari tengah laut yang dibawa ke darat masih segar. Selain itu, sistem lelang di TPI Pantai Sedangbiru dinilai paling fair play (transparan) dibandingkan pantai lain di Indonesia. “Di sini, sistemnya dibikin transparan. Lelang yang diadakan benar – benar lelang. Bukan lelang rekayasa. Dan nelayan daerah lain mengakuinya,” ujar Fajar. H Umar Hasan, ketua kelompok nelayan Rukun Jaya mengatakan, perkembangan pesat nelayan di Pantai Sendangbiru itu dimulai tahun 1997. Pada mulanya, nelayan dari Malang hanya menangkap ikan – ikan kecil dan belum bisa menangkap ikan tuna yang harganya lebih mahal di pasaran. Justru yang bisa menangkap ikan tuna adalah nelayan dari Bugis yang menjadi ABK (anak buah kapal) sebuah kapal dari Filipina di kawasan Laut Sendangbiru. Namun, ketika masa reformasi (tahun 1998), kapal – kapal Filipina itu ditarik ke negaranya. Tetap[I ABK-nya masih tetap melanjutkan mencari tuna di Sendangbiru. Awalnya ABK dari Bugis ditolak berlabuh di Sendangbiru oleh nelayan setempat. Namun, atas saran para tokoh aparat desa, mereka diperkenankan berlabuh dan menghajari nelayan Sendangbiru untuk menangkap ikan tuna. Nah, setelah nelayan Sendangbiru bisa menangkap ikan tuna, penghasilannya melimpah ruah. Sejak itulah banyak warga yang menjadi nelayan. “Dulu yang berlabuh tak sampai 2 ribu, kini sudah mencapai 5.600 nelayan,” kata Umar.
Dari 5.600 nelayan di Pantai Sendangbiru, sebanyak 2.500 nelayan berasal dari warga setempat atau yang telah ber-KTP Malang. Sisanya adalah nelayan dari luar daerah yang berlabuh.
Ditambahkan, ikan – ikan hasil tangkapan nelayan Pantai Sendangbiru dikirim hingga ke Bali, Surabaya. Serta Jakarta. Bahkan, yang dikirim ke Bali selanjutnya dikirik ke Jepang dan Eropa.

Share
, , , , ,